Kajian Tafsir Hari ini Rabu 19 September 2012
TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 2 bagian ke 3

Lanjutan :
Permasalahan Dosa-Dosa sebelum masa kenabian

Masalah dosa kecil sebelum kenabian ini berputar dalam dua masalah, yakni antara boleh terjadi dan tidak boleh terjadi. Maka apabila dosa kecil itu dianggap boleh terjadi pada Rasulullah sebelum masa kenabiannya maka hal tsb tidak menyentuh terhadap kedudukannya dan ketinggian maqom Rasulullah SAW sebab hal tsb terjadinya sebelum Beliau diutus dan mendapat taklif (beban kewajiban dari Allah swt) dan hal tersebut telah diampuni dan diringankan dari Beliau akan segala keberatannya. Maka jika hal tersebut ternyata tidak pernah terjadi sama Beliau dan hal tersebut tidak diperbolehkan bagi Beliau, maka sudah tentu demikianlah yang seharusnya. Imam Al-Aluusy telah membawakan satu dalil di dalam kitab tafsirnya bahwa : suatu hari Paman Rasulullah SAW pernah berkata kpd saudaranya al-Abbas ; “aku sudah mengasuhnya dalam rumah tanggaku dan aku tidak pernah meninggalkannya baik siang mau pun malam dan aku tidak pernah menitipkan kepada seseorang pun” kemudian pamannya berkata lagi : “dan aku tidak pernah menyaksikan kebohongan darinya sekalipun, tidak pula tertawa terbahak, tidak pula masalah jahiliyah dan tidak pernah pula Beliau berdiri dengan anak-anak yang sedang bermain”.
Dan di dalam kitab-kitab tafsir juga disebutkan bahwa suatu ketika Beliau di masa kecilnya hendak pergi ke tempat pesta pernikahan agar tahu apa yang ada di sana. Di saat Beliau sudah mendekati tempat tersebut maka Beliau pun tiab-tiba merasa kantuk dan tertidur dan tidak terjaga kecuali matahari sudah tinggi bersinar. Maka Allah pun menjaga Beliau dari melihat dan mendengar segala sesuatu yang seperti hal tsb (dosa kecil).
Dan Rasulullah SAW di antara kebiasaannya adalah bertaubat, beristighfar dan bangun malam sampai kedua kakinya bengkak. Beliau bersabda : “tidak patutkah aku untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur”. Maka semua itu adalah bentuk syukur Beliau dan bentuk dari pada ketinggian derajatnya. Atau yang demikian itu Beliau menganggap bagi dirinya adalah suatu kekurangan dan dihitung sebagai suatu dosa yang Beliau anggap berat dan perlu diistighfari yakni sebagaimana Beliau jika keluar dari kamar mandi berkata : “ampunanMu ya Allah (yang aku harapkan)”. Dan sudah maklum bahwa keluar dari KM bukan satu hal yang mengaruskan kita untuk beristighfar melainkan sebagaimana dikatakan bahwa Beliau merasa meninggalkan dzikir di dalam keadaan demikian itu maka hal tersebut layak untuk diistighfari..
Di antara contoh Al-Wizru (الوزر) artinya beban yang berat yang kemaren ditafsirkan oleh para ulama adalah beratnya beban dakwah yakni apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadis Sayyidina Abdullah bin Abbas ; Rasulullah SAW bersabda : “Di malam aku di Makkah diisro’kan oleh Allah swt maka di pagi harinya aku merasa sedih dan berat (fadzi’tu), dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakan aku. Akhirnya aku duduk menyendiri dalam keadaan sedih tiba-tiba berlalulah di hadapanku Abu Jahal. Dia pun akhirnya dan datang dan duduk bersamaku. Dia pun berkata kepada ku seakan orang yang mengejek. Apakah ada sesuatu yang telah terjadi..? maka Rasulullah pun menceritakan kepadanya perihal Isro’ mi’roj”. Di dalam hadis tersebut jelas ada pernyataan sedih dan berat yang Beliau rasakan di dalam berdakwah..Wallahu A’lam ….