Assalamualaikum Wr. Wb.

“TUJUAN HIDUP DAN HARGA DIRI”
Alhamdulillah sore ini Husen ku udah kembali ke Pesantren melanjutkan Jihadnya untuk menggali warisan Nabi Kita Muhammad SAW. Menjalankan perintah Beliau yg menginginkan agar Ummatnya menjadi orang Alim, mengajar dan berdakwah. Dia termasuk salah satu anak termuda 6.5 th di antara 70 orang temen-temennya yg insyllah calon calon para ust, Kyai dan Ulama.
Di pesantren sore itu banyak anak santri juga baru pulang dari rumahnya kembali ke pesantren. Sewaktu Husenku masuk ke kamarnya kebetulan ada ibu wali santri berkata : “ihh masih kecil amat, umur berapa pak?” saya jawab “6.5th bu, dia yg paling kecil dari semua temennya”. Ibu itu berkata lagi “Lho udah ga disekolahkan ke SD lagi pak, ntar gimana kalau dia mau kerja kan ga punya Ijazah…?” ternya ibu ini adalah salah satu di antara orang tua yg tidak mengerti akan Tujuan Hidup dan Harga dirinya. Iyaa Harga Diri menjadi ummat Nabi Muhammad SAW.
Saya jawab “Ibuu ..ibu emang punya niat dan kepingin anaknya kerja yg derajatnya menjadi buruh…?, Kalau kita diajarkan sama Allah SWT dan Rasulnya untuk menjadi Guru, Ustadz dan Kyai, Kita mendapatkan tugas untuk mengajar dari Rasul. Anak disekolahkan SD 6 th bisa apa..? kalau di sini di pesantren 3th atau maksimal 6th anak kita udah bsa hafal Al-Quran. Anak lulusan SMU coba suruh mengarang bisa ga..? Ijazah SMU saya dulu sampai sya punya anak ga kepake sama sekali. Buku saya pelajaran SMU dulu diwariskan ke adik saya aja ga bisa apalagi ke anak. Malah ujung-ujungnya buku pelajaran sekolah dulu larinya ke rongsokan jadi bungkus kacang. Tapi sekarang di Majelis, di pengajian alhamdulillah dengan ilmu Agama kita bisa mengajar para Prof, DR, Dosen dll. Coba karangan Imam Syafi’i udah berumur 1250th masih tetap dipelajari. Di pesantren kitab-kitab para ulama lain seperti Imam ghozali, Imam Nawawi udah berumur ratusan tahun masih saja tetap dipelajari dan terbukti kebenaran dan keberkahannya”. “Ohh iya yaa pak, saya jadi tambah mantep deh..mau mesantrenin anak, Iya yaa anak kita harus jadi guru, jadi ulama” kata ibu tadi.
Aku pun lanjut menjelaskan “Ibuu sekarang mah masalahnya adalah perang pemikiran dan aqidah. Bayangkan orang kafir sudah mampu membuat benteng pertahanan ummat Islam terakhir yakni Pesantren menjadi Gagap Produksi untuk mencetak para Ust, Para Kyai apalagi para Ulama. Malah pesantren terutama yg berlabel Modern ikut menjadi partner orang kafir mencetak para buruh dan menyebarkan ilmu rongsokan mereka. Iya kita hanya ditipu dengan permainan kata pesantren Modern dan Pesantren Tradisional. Kalau saya hitung dulu saya sekolah MTsN dan SMU berapa teman seangkatan saya yg jadi ust atau Kyai..? Wajar ga kalau dari pesantren jadi Karyawan atau PNS yg bahasa kasarnya dulu Abdi Negara atau buruh? Nah sekarang tergantung ibu. Apa tujuannya punya anak dalam hidup ini. Apa harga diri kita sebagai Ummat yg terbaik. Harusnya kita menjadi guru mengajarkan syariat Islam syariat terbaik yg menutup semua ajaran nabi dan Rasul terdahulu. Ummat dan Masyarakat butuh akan anak-anak kita menjadi Ust, Kyai dan ulama. Sekarang di bogor aja nyari imam yg bener aja susah, apalagi nyari sosok Ulama”.

Semoga Masih banyak Ibu dan Calon Ibu yg mengerti Tujuan hidup dan Harga dirinya menjadi Ummat yg Terbaik.

Semoga MT Darul Futuh bisa berproduksi mencetak para Ust, Kyai dan Para Da’i yg memiliki dan mengerti akan Tujuan Hidup dan Harga Diri.

(Catatan Pengalaman Hidup, Hadiah Buat Saudara-saudariku seiman dan seagama. Spesial buat MUJAHID KU HUSEN ALI MASHUR)