Ringkasan dan Poin-poin KajianSetanologi

Kajian Setanologi 2 – Bab Ayat2 Quran yg Menjelaskan Tentang Syetan

MAJLIS TA’LIM DARUL FUTUH.

[BERILMU, BERAMAL, BERDAKWAH]

Pimpinan Ustad Ahmad Sa’id, alumni Hadromaut Yaman & ponpes al-khoirot bekasi

# Alamat : Komplek IPB 1, Sindang Barang (dekat pom bensin loji) Rt.03/12 No.05 loji. Bogor Barat. BOGOR
# Facebook (live streaming) : facebook.com/ahmad.said.16503
# Youtube channel : MT Darul Futuh
# Whatsapp : 08151924 7195
# Website : mtdarulfutuh.org
# Radio : Attanwir 102.4FM (jangkauan radio kawasan Bogor ciomas dan sekitar nya)
# Ta’lim harian
PAGI 09:00-11.30 : Senin,Selasa,Rabu dan Jum’at
Kajian tafsir Al-Qur’an, Fiqih dan Tasawuf
# untuk info Ta’lim mingguan, dan bulanan, dan ta’lim malam bisa hubungi kontak WA diatas

 

RESENSI TALIM MINGGUAN RUTIN RABU MALAM KAMIS (11-sept-2013)

Bersama Mahasiswa IPB DI MASJID JAMJUM DRAMAGA
(Depan Hotel Duta Berlian)
TEMA : KAJIAN SETANOLOGI 2
Bab Ayat2 Quran yg Menjelaskan Tentang Syetan..

1- Di dalam Al-Quran ada 70 ayat syetan disebut dalam bentuk mufrod dan 18 kali dalam bentuk jama’.
2- Surat pertama yg menyebutkan tentang syetan dalam satu konteks kisah Nabi Adam adalah surat al-Baqoroh ayat 30-39 adapun pelajaran yg bisa diambil dari rangkaian ayat tersebut di antaranya adalah :
– Tujuan Hidup penciptaan Manusia adalah Khilafah (dalam ayat ini) di samping ada tujuan yg kedua adalah Ibadah.
– Manusia jika dalam seumur hidupnya tidak tahu tujuan hidupnya atau tahu tapi gagal menjalankan tujuan hidupnya maka dia adalah manusia yg pasti akan takut, sedih, sesat dan celaka baik dunia maupun akherat.
– Masih lebih beruntung Manusia yg Tahu Tujuan hidup dan tekad walaupun dia tidak banyak memiliki potensi materi dari pada punya materi tapi ga punya tujuan sebagaimana orang punya kendaraan jika tidak punya tujuan maka dia akan berputar-putar di jalan dan mampir kesana kemari tidak jelas. Berbeda dengan anak muda yg hanya modal dua kaki karena dia punya tujuan dan tekad hadir konser (misalnya) walaupun dengan berjalan kaki juga dia akan menempuhnya.. Bagaimana dengan tujuan hidup kita..?
– Khilafah yg harus dijalankan mempunyai beberapa ruang lingkup cakupan :
A: minimal dia bisa mengatur dan membimbing diri sendiri agar bisa bermusuhan dg Iblis / syetan yg bertekad dan punya program akan menyeret seluruh keturunan manusia ke neraka. Jadi minimal manusia bisa mengatur dirinya dhohir maupun bathin agar selamat dari neraka dan bahkan sebaliknya harusnya dia bertekad melawan program iblis dan syetan tersebut dengan bersumpah akan mengajak /berdakwah mengajak manusia yg pada hakekatnya satu keturunan dengan dia dan satu jenis untuk bisa selamat masuk ke surga.

B. khilafah tingkat menengah adalah paling tidak kita bisa mengamankan keluarga kita dari program syetan menyeret manusia ke Neraka sebagaimana dalam QS At-Tahrim ayat 6 “Jagalah dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka”. Kalau kita menjaga diri kita aja susah gmn menjaga keluarga kita..? contoh jika kita tidak bisa menjaga kita dari penglihatan yg mengarah ke neraka bagaimna bisa kita mengatur, menjaga penglihatan mata keluarga kita. Kalau kita susah menyesuaikan pakaian kita dalam menutup aurat dan sesuai dengan anjuran Syar’i dan berciri Islami bagaimana bisa kita bisa mengatur pakaian anak istri kita agar menutup aurat dan meningkatkan lebih sya’ri dan sesuai dg anjuran Nabi…?

C. Khilafah tingkat atas adalah bisa mengatur dan menjalankan kehidupan orang sekitar kita sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT baik lingkup santri atau murid kita, lingkup rt atau kampung kita dan seterusnya meningkat sesuai dengan meningkatnya kadar dan Kekuatan Tasbih sang Khilafah, kadar dan Kekuatan Ilmunya serta kadar dan kekuatan Penyampaian Ilmunya. Yakni bahwa Rajin Tasbih (ibadah) dan Ilmu itu adalah syarat dan modal kholifah seperti yg Allah ceritakan tentang perkataan para Malaikat bahwa “kami sering bertasbih” dan “Allah mengajari Nabi Adam”. Kemudian tidak hanya cukup sedemikian supaya Nabi Adam berhak mendapatkan pengakuan berupa sujud ta’dzim dari malaikat maka Allah pun memerintahkan kpd Nabi Adam untuk mengajar, mengabarkan, menjelaskan, dan berdakwah kpd para malaikat. Begitu malaikat menyerah dan tidak memeliki keilmuan “Maha Suci Engkau Ya Allah bahwa kami tidak punya Ilmu…” maka pantaslah jika Allah memerintahkan malaikat agar sujud kpd Nabi Adam : “usjuduu li Adam”. Artinya rakyat itu akan mengakui dan sujud (nurut) kpd sang kholifah jika Dia sudah memenuhi seperti keriteria di atas. Kholifah itu harus memiliki Kekuatan Ilmu, Amal ibadah dan Rajian dalam Mengajar dan Berdakwah/mengajak kepada Allah SWT karena dia adalah Kholifatullah di muka Bumi.

3- Di saat terjadi dialog antara Allah, Iblis, Malaikat dan Nabi Adam, Siti hawa belum tercipta dan belum ada ceritanya. Dari sini maka sangat salah jika Kaum Adam apabila hendak mengambil keputusan bertanya kepada kaum Hawa yakni bertanya ke Istri atau orang wanita. Hal ini karena Kaum hawa dahulu tidak mengerti tugas ke khilafahan, Amanah keilmuan dan juga adanya pihak yg kontra yakni syetan sehingga dikatakan dalam hadist “ Wanita itu adalah tali / sarana syetan” yakni untuk mengikat, menggoda dan menjerumuskan kaum Adam sehingga dia tidak bisa dan lupa akan tugas dan tujuan hidupnya yakni untuk menegakkan Ibadah dan Khilafah di muka bumi….
Berlanjut…dikit dikit aja…semoga bisa berkah
Yuk kita sama sama berjuang mengajak dan berdakwah dengan segala sarana yg ada..semoga semakin banyak sodara kita yg bisa kita selamatkan dari jebakan syetan dan program syetan…Amin

 

Semoga Berkah di dunia maya dan di darat….
Jangan Lupa Doain kami Wahai saudara saudaraku seketurunan dan seiman..semoga kita semua selamat dari program syetan…yuk kita lebih semangat lagi berdakwah dan mengajak saudara-saudara kita ke jalan kebaikan dan surga…Share yg banyak yaa…!!! Hidup Manusia…..

{Apabila ada yang kurang faham bisa ditanyakan kepada Ustad Ahmad di kontak WA di atas}

Sampaikan kepada yang lain…
Rosululloh SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close