Beda Kesulitan yg merupakan Ujian, peringatan dan hukuman…

Kajian Tafsir Hari Senin 24 September 2012
TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 5

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
{فَإِنَّ مَعَ الْعُسْر} الشِّدَّة {يُسْرًا} سُهُولَة {إِنَّ مَعَ الْعُسْر يُسْرًا} وَالنَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاسَى مِنْ الْكُفَّار شِدَّة ثُمَّ حَصَلَ لَهُ الْيُسْر بِنَصْرِهِ عَلَيْهِمْ (تفسير الجلالين ص: 812])
Allah SWT berfirman : 5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. 6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Para ulama ahli tafsir mengatakan :
– 5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan (cobaan dahsyat) ada kemudahan (keringanan). 6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (Dan Rasulullah Saw menghadapi cobaan dahsyat dari orang kafir kemudian Rasulullah mendapatkan kemudahan dengan kemenangan Beliau atas mereka) (tafsir Jalalain)
– Ayat ini diturunkan di saat orang orang musyrik menghina para sahabat yg beriman atas kefaqirannya. Imam Ibnu Jarir meriwayatkan hadis dari Imam Hasan Al-Bashri, beliau berkata : di saat ayat 5-6 ini diturunkan maka Rasulullah SAW bersabda : Bergembiralah …telah datang kepada kalian kemudahan. Satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan. (Tafsir Al-Munir oleh Dr Wahbah Zuhaily)
– Berkata Imam Sa’id dari Imam Qotadah telah disebutkan dalam hadis bahwa Rasulullah memberi kabar gembira para sahabatnya dengan ayat ini dan Beliau bersabda : satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan 2 (dua) kemudahan..Makna dari hadis ini adalah bahwa kesulitannya الْعُسْرَ dima’rifatkan dalam dua keadaan tsb (di dua ayat itu diawali alif dan lam) dan dalam bentuk kata tunggal. Sedangkan kemudahan الْيُسْرُ dinakirahkan (diakhiri dengan tanwin) sehingga menjadi berbilang (bukan satu jenis kemudahan yg sama) maka dari situ Beliau bersabda : “satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan 2 (dua) kemudahan”, yakni firman Allah SWT {فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا}. Maka الْعُسْرَ yang pertama sama dengan الْعُسْرَ yg kedua sedangkan الْيُسْرُ nya berbeda dan berbilang (yakni antara yg pertama dan yg kedua) (Tafsir Ibnu Kastir).
– فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً yakni sesugguhnya bersama kesempitan itu ada keluasan, bersama kesulitan itu ada kemudahan dan bersama keruwetan masalah itu ada jalan keluar. Dan dalam ini ada janji dari Allah SWT bahwa setiap ada kesulitan maka akan menjadi mudah. Dan setiap yg kesulitan yg dahsyat akan menjadi lemah dan setiap kesusahan akan menjadi lunak. Kemudian Allah SWT menambah janji ini sebagai pemantapan dan penguatan maka Allah pun mengulangi akan janji tersebut dan berfirman : إنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً yakni sesungguhnya bersama kesulitan yg sudah disebutkan tersebut ada kemudahan yg lain. Hal ini dikarenakan bahwa jika isim ma’rifat jika diulang maka yg kedua adalah sama seperti yg pertama itu juga baik yg dimaksudkan adalah jenis atau sebutannya. Berbeda dengan isim nakirah. Jika diulang maka yg dimaksudkan dengan isim nakiroh yg kedua kebanyakan adalah satu mufrod (kata tunggal) yg berbeda dengan yg dimaksudkan oleh kata mufrod yg pertama. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda dalam masalah makna ayat ini : “tidak akan bisa menang satu kesulitan atas dua kemudahan”. Imam Wahidi berkata : dan sabda Nabi, para sahabat dan ulama ahli tafsir menyatakan bahwa kesulitannya adalah satu dan kemudahannya adalah dua. (Tafsir Faidhul Qodir – Asy-Syaukani)

Komentar saya :
1- Samakah kesulitan kita dengan yg para sahabat hadapi?
Jika kita telaah dengan seksama dalam kehidupan kita, maka akan kita dapatkan bahwa manusia sering di dalam hidupnya mengalami kesempitan hidup, kesulitan, masalah dan bahkan sudah suatu kepastian dari Allah bahwa “Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam keadaan sulit (selalu menghadapi kesulitan baik di dunia dan di akherat) (QS Al-Balad 4). Oleh karena itu kenapa kita takut menghadapi kesulitan hidup, lari sebelum berjuang, tidak tanggungjawab dan putus asa. Ini berarti kita menentang akan kodrat penciptaan kita sebagaimana yg Allah SWT jelaskan di surat Al-Balad ayat 4.
Namun jika kita teliti kembali ternyata sebab-sebab dan sumber kesulitan, musibah serta keruwetan hidup itu datangnya dari faktor-faktor yg berbeda. Yang jelas jika disimpulkan ada tiga kategori kesulitan dan kesempitan hidup : 1. kesulitan berupa ujian; 2. kesulitan / keruwetan yg merupakan teguran; dan 3. Kesulitan masalah yg berupa hukuman dari Allah. Dan celakanya terkadang orang dihukum oleh Allah karena perbuatannya yg tidak dia sadari sehingga hidupnya senantiasa dalam masalah, keruwetan dan kesulitan yg tidak ada ujung pangkalnya tapi dia merasa diuji sama Allah. Padahal kalau anak sekolah yg ikut ujian dan yg dihukum oleh gurunya itu jelas tidak sama. Inilah yg dialami kebanyakan orang tidak menyadari akan hukuman Allah atas dirinya tapi merasa diuji dan diuji. Dan penyebab kesulitan hidup yg penuh masalah dan kesempitan ini diisyaratkan dalam ayat
{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {طه: 124
“siapa yg berpaling dari mengingat Aku maka baginya akan mendapatkan kesempitan/masalah kehidupan dan kelak di hari kiamat akan kami kumpulkan dalam keadaan buta”.
Nah sekarang apakah sebab kesulitan, kefaqiran, masalah dan keruwetan hidup yg dialami para sahabat tsb seperti yg dimaksudkan dalam ayat ini..? Kalau kita pelajari di dalam sirah Nabawiyah maka kita ketahui kesulitan, malasah dan kefaqiran yg dialami para sahabat itu datangnya dari orang musyrik Mekkah yg memutus hubungan ekonomi, menyiksa sebab para sahabat beriman. Dari sini bisa kita katakan bahwa kesulitan para sahabat itu adalah kesulitan yg muncul karena keimanan mereka, karena agama mereka, yg mana membawa suatu konsekwensi harus hidup berbeda sesuai dengan hukum agama dan keimanan yg mereka anut yg hal ini jelas bertentangan jauh dengan kondisi masyarakat Quraisy yg hukum dan kebiasaan kehidupannya dalam berbagai aspek berbau kekafiran dan kemusyrikan. Jadi kesulitan hidup kita dengan para sahabat bisa sama dan bisa berbeda. Kalau para sahabat ujian keimanan kalau kita teguran atau bahkan hukuman karena kita kurang atau bahkan tidak beriman dan beramal sholeh.
2. Dari penjelasan penafsiran di atas kita ketahui bahwa Rasul dan para sahabat karena keimanan mereka maka bisa dihibur dan digembirakan dengan ayat, wahyu, hadis dan kabar gembira dari Allah dan RasulNya. Ayat tersebut adalah penghibur dan pelipur lara atas kefaqiran dan kesulitan hidup yg mereka hadapi. Bagaimanakah dengan kita..? jika kita mempunyai kadar keimanan maka kita juga akan ikut merasa bergembira jika kita membaca janji dan kabar gembira yg datangnya dari Allah dan RasulNya dan bahwa Quran dan hadis itu bisa menjadi pengobat hati bagi kita yg beriman. Tapi dikarenakan kita tidak mempunyai iman maka kita masih membutuhkan hiburan berupa permainan, hoby, pemandangan, makanan dan sebagainya bahkan tidak lagi dipertimbangkan apakah hiburan itu halal atau haram yg penting hapy. Oleh karena itu mari kita intropeksi kadar keimanan kita..sejauh mana kita terpengaruh dengan apa yg dikatakan dalam ayat dan hadis atau kah kita lebih percaya dan terpengaruh dengan kabar TV, Koran, media, internet dsb dari pada dari kabar langit (Quran dan Hadis) yg tidak ada kebohongan dan kedusataannya..? mana yg lebih kita butuhkan kabarnya..? kabar langit atau kabar dunia..? jawaban anda itulah kadar keimanan anda..Wallahu a’lam