Kekosongan waktu adalah penyesalan…
waktu kemaksiatan adalah kerugian dan kebinasaan…
Etos Kerja Tinggi anti Pengangguran…Ajaran Quran dan Islam yang Suci

Kajian Tafsir Hari Kamis 18 Oktober 2012
TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 7

{فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) }
Allah SWT berfirman : “maka jika kamu sudah menyelesaikan (satu urusan) maka bangkitlah (menyelesaikan urusan yang lain)”

Para ulama ahli tafsir mengatakan :
– Jika kalian sudah selesai (dari sholat) maka bangkitlah (yakni bersungguh-sungguhlah di dalam berdoa) setelah sholat. (Tafsir Jalalain)
– Makna فَانْصَبْ yakni maka bersusahpayahlah. Jadi An-Nashob adalah kesusahpayahan. Berkata Sy Ibnu Abbas, Imam Qotadah, Imam Ad-Dhohak, Imam Muqotil dan Imam Kalbi : Apabila kamu sudah selesai dari sholat fardhu lima waktu maka bangkitlah sungguh-sungguh kepada Tuhanmu di dalam berdoa dan mengharaplah kepadaNya di dalam permintaanmu maka Dia akan memberimu.
Imam Abdul Wahhab bin Mujahid meriwayatkan dari ayahnya bahwa beliau berkata : Jika kamu sudah selesai sholat maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdoa dan memohon.
Sy Abdullah bin Mas’ud berkata : jika kamu sudah selesai dari sholat fardhu 5 waktu maka bangunlah untuk melakukan qiyamullail.
Imam aS-Sya’by berkata : jika kamu selesai dari tasyahud (dalam sholat) maka berdoalah untuk kepentingan duniamu dan kepentingan akheratmu.
Berkata Imam Hasan dan Imam Zaid bin Aslam : jika kamu sudah selesai dari berjihad melawan musuhmu maka bangkitlah untuk menyembah dan beribadah kpd tuhanmu.
Berkata Imam Manshur dari Imam Mujahid : jika kamu sudah selesai dari urusan dunia maka bangkitlah untuk beribadah kpd TuhanMu dan Sholatlah.
Berkata imam Hayyan dari Imam Al-Kalbi : jika Kamu sudah selesai dari menyampaikan Risalah maka bersungguh-sungguhlah yakni mintalah ampun atas dosa-dosa mu dan bagi orang mukmin. (Tafsir Al-Baghowi)
– Di dalam firman Allah SWT ini maknanya adalah kesusahpayahan setelah adanya suatu ijtihad (usaha yg sungguh-sungguh). Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT di surat Al-Ghosyiyah ayat 2-3 : “ada wajah-wajah yg mana di hari itu terlihat tertunduk ketakutan, yang bekerja keras dan susah payah.” Jadi terkadang susah payah atau sungguh-sungguh itu karena urusan dunia atau karena urusan akherat. Dan Allah SWT tidak menjelaskan yg dimaksudkan dengan an-Nashob ini adalah dalam urusan yang mana, maka dari itulah ada perbedaan pendapat dari para ulama akan tetapi semua pendapat itu satu sama lain mempunyai makna yang berdekatan (yakni sebagaimana yang tersebut di atas dalam tafsir al-Baghowi). Adapun yang banyak dibuktikan oleh makna al-Quran adalah bahwa hal tsb adalah suatu arahan yang umum agar kita mengambil bagian dalam urusan akherat setelah kita selesai dari melakukan pekerjaan dunia. Hal ini serupa dalam firman Allah SWT si surat Al-Isra 79 “dan di antara sebagian malam maka bertahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, semoga kelak tuhanmu akan membangkitkan mu di kedudukan yang sangat terpuji.” Yakni hal ini dikarenakan malam hari adalah waktu yang kosong dari segala pekerjaan siang hari dan di malam hari itu lebih tenang sehingga diharapkan waktu Rasulullah semuanya ada kesibukannya baik itu dalam urusan dunia dan dalam urusan agama/akherat. Jadi dalam firman Allah di ayat yg ke 7 ini adalah suatu solusi besar atas masalah kekosongan waktu dan pengangguran yang mana hal ini menyibukkan seluruh masyarakat dunia padahal dalam ayat ini ada isyarat yang maknanya tidak menyisakan lagi suatu waktu dan kesempatan yang kosong bagi orang muslim. Sebab dia adakalanya tersibukkan oleh urusan dunia atau dia sedang mengerjakan amal pekerjaan akherat.
Diriwayatkan dari Sy Abdullah bin Abbas : bahwa suatu ketika Beliau berlalu melewati dua orang yang sedang berkelahi maka Beliau berkata kpd keduanya : “bukan dalam hal yang seperti ini kita diperintahkan (dalam syariat) setelah kita mempunyai waktu yang kosong”.
Diriwayatkan juga dari Sy Umar bin Khotob bahwa Beliau berkata : “sesungguhnya saya paling tidak senang jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan kosong dan menganggur, yakni tidak dalam pekerjaan dunia dan tidak dalam urusan agama”.
Karena hal ini lah maka generasi pertama dahulu sama sekali tidak pernah mengeluhkan masalah pengangguran dan kekosongan waktu. (Tafsir Adhwa’ul Bayan )

Komentar saya :

1- Sepintas jika kita melihat makna dan penafsiran para ulama di atas atas satu ayat berbeda dan tidak sama. Namun jika kita renungkan lebih dalam lagi semuanya akan bertemu pada satu benang merah bahwa jangan sampai ada waktu kosong dan menganggur, yakni sebagaimana riwayat sayyidina Umar, tidak dalam urusan dunia atau urusan akherat.
2- Makna kesibukan dan kerjaan menurut Islam. Dari ayat dan hadis ini sungguh sangatlah salah dan sangat jauh dari pola pandang dan pemikiran al-Quran bahwa kalau kita atau ada orang yang memilih jalan hidup bertajarrud atau beribadah saja, banyak mengaji dan mengurusi urusan akherat dianggap sebagai pengangguran. Sebab mengerjakan urusan akherat itu juga suatu pekerjaan yang mulia. Tapi sayang pola pikir kita sudah teracuni bahwa yang disebut bekerja dan pekerjaan itu hanya kalau kita meniru orang kafir yakni bekerja di pabrik, perusahaan, ada NIP dan seterusnya baru dianggap karyawan dan bekerja padahal itu kalau dialih bahasakan adalah buruh atau kacung dst. Tapi kalau ada seorang ulama atau da’I yang konsen mengurusin urusan agama, dakwah, mengajar dan pyur ibadah dibilang tidak punya pekerjaan dan menganggur. Bukankah yang demikian itu pekerjaan dan kegiatan para Nabi dan Rasul…? Sungguh sempit pemikiran dan pola pikir orang yang seperti ini.
3- Pernah suatu ketika kita diminta untuk mengisi ceramah menyambut rhomadhon dari dinas pertanian yg sedang mengadakan rapat tahunan. Saat itu rencananya selesai rapat dilanjutkan dengan siraman rohani baru kemudian santapan jasmani dan lokasi rapat adalah di sebuah restoran besar. Satu hal yang menarik bagi kami adalah perkataan ketua rapat langsung aja pak ustadz karena tempatnya hanya sampai jam 1 siang. Setelah kurang lebih jam 1 kurang 10 menit kita sudah pada keluar dari ruangan bahkan para petugas dari restoran sejak jam 12.45 sudah pada kelihatan di sekitar ruang rapat. Saya pura pura bodoh dan bertanya pak..mereka mau ngapain..? biasa pak ustadz persiapan untuk bebenah ruangan yang akan dipakai oleh pihak lain. Benar … di saat kita semua sudah keluar ternyata mereka dengan sigap segera memasang spanduk tour n Travel dan ada gambar ka’bah dan membersihakan dan menata ruangan. Dari pemandangan itu saya berkata kpd salah seorang yg ikut rapat dan ceramah tadi..pak ini lah praktek dari ayat 7 di surat alam `nasyroh : jika kalian sudah seselai maka bergegaslah mengerjakan yang lain. Namun sayang hal tsb hanya dipraktekkan dalam urusan dunia saja.
4- Imam Abdullah Al-Haddad berkata dalam kitab Nashoihnya bahwa : “diriwayatkan dalam hadis bahwa kelak akan ditampilkan di hadapan manusia di hari kiamat akan seluruh jam-jam dalam siang dan malam harinya dalam bentuk suatu kotak. Setipa sehari semalam dalam 24 kotak sejumlah dengan bilangan jamnya dalam sehari semalam. Maka dia akan melihat kotak jam yang di dalamnya dipakai untuk ketaatan kpd Allah maka kotaknya akan dipenuhi dengan cahaya. Dan kotak jam yang dipakai untuk kemaksiatan maka akan dipenuhi dengan kegelapan, sedangkan kotak yang tidak dipakai ketaatan atau kemaksiatan maka akan ditemukan dalam keadaan kosong tidak ada isinya. Maka sungguh sangat dahsyat penyesalannya jika dia melihat kotak yang kosong tsb kalau tidak diisi dengan ketaatan kpd Allah SWT sehingga bisa dia dapatkan dalam keadaan penuh dengan cahaya. Adapun kotak yang dia dapatkan dalam keadaan penuh dengan kegelapan maka seandainya ditetapkan saat itu dia bisa mati karena menyesal maka di saat melihatnya dia akan mati karena sangat menyesal akan tetapi tidak ada lagi kematian di akherat. Maka orang yang memenuhinya dengan ketaatan maka di saat itu akan selalu bahagia dan diiri oleh banyak makhluk dan terus bertambah kebahagiaannya seiring dengan bertambahnya waktu”.
Jadi wahai segenap saudara-saudari ku..Kekosongan waktu adalah penyesalan…waktu kemaksiatan adalah kerugian dan kebinasaan..pilihlah mana yang ingin kalian raih di keesokan hari di saat seluruh manusia dibangkitkan..

Wallahu A’lam

Ya Allah pergunakan dan bimbinglah kami di dalam mengisi dan menggunakan waktu-waktu dan kesempatan kami, di sisa-sisa umur kami ini, dalam segala hal yang bisa membuat Engkau dan RasulMu menjadi ridho atas kami, dalam hal ketaatan dan meraih kedekatan serta Mahabbah di sisiMu dan juga di sisi RasulMu. Jadikan lah kami di antara hamba-hambaMu yang paling bermanfaat bagi saudaranya sesama muslim..hanya ini yang kami mampu..terimalah dan kabulkan…amiin