Kajian TASAWUF Kitab BIDAYATUL HIDAYAH

KAPSUL HATI (yg jarang ada di PASARAN) apakah Resep dan Dosisnya..?

Assalamualaikum Wr Wb

Kalau kita ditanya tentang dimensi manusia tentu akan kita jawab bahwa dia adalah makhluk yg berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Namun di dalam kehidupan sehari-hari banyak di antara manusia baik yang muslim atau non muslim, mereka selalu lebih memperhatikan tentang kesehatan jasmani dibandingkan dengan kesehatan rohani. Bahkan sejak kecil kita yg notabene muslim pun sering melupakan isyarat Syariat Islam bahwa di saat setelah lahir si bayi sebelum diberikan kebutuhan jasminya yakni Asi Perdana ( Collostrum ) orang tua dianjurkan terlebih dahulu mengazani di telinga kanan si bayi. Mengapa demikian..? Ini tidak lain adalah dalam rangka memenuhi tuntutan Rohaninya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ulama, si bayi tadi jiwanya bertanya : siapa aku, di mana aku, akan kemanakah aku, dan seterusnya, yg nantinya  itu semua adalah pertanyaan awal Rohani manusia setelah dia pertama kali memasuki alam dunia dan jika tidak mendapatkan jawaban dia akan menjadi manusia yg tidak kenal akan jati diri dan panggilan jiwanya. Dia akan bingung di dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini tidak mempunyai tujuan yang pasti.

Hal ini penting karena kebutuhan Rohani itulah yg lebih penting untuk didahulukan dari pada kebutuhan jasmani. Sehingga diharapkan kelak di masa depannya dia sudah terlatih mengurusi dan mementingkan masalah Rohani. Tapi karena kita sendiri banyak yg lupa atau tidak tahu akan hal ini maka yg terjadi di lapangan justru sebaliknya. Terbukti kebanyakan di antara orang tua muslim sejak kecil anaknya hanya ditimbang dari sisi jasmaninya saja, berapa berat badannya, sehatkah badannya dst. Dia lupa bahwa Rohani manusia juga tumbuh, memerlukan perhatian, perawatan dan terkadang bisa menjadi sakit Rohani atau sakit jiwa atau hatinya sakit. Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana POSYANDU yg menimbang perkembangan Rohani dan kesehatan bayinya. Hal ini terus berlalu bahkan di saat usia tua dan  sudah pensiun dari kerjaan pun di antara kita sering melihat ada manusia masih seperti anak2 kecil, masih mengurusi hoby, kebun, masih bermain dst. Padahal yg demikian itu menurut para Ulama menunjukkan kekerdilan dan ketidakdewasaan Rohaninya atau dia bahkan mengidap penyakit hati / Rohani yg parah yakni tidak percaya akan hisab dan azab sehingga tidak melakukan persiapan walau udah pensiun dan udah tua. Sebagaimana orang yg percaya mendung itu pertanda akan turun hujan maka yg percaya akan turun hujan dia pasti sedia payung. Wal-iyadzubillah.

Di Dalam Al-Quran, Allah swt menyatakan bahwa ada orang yg “Di hati mereka ada penyakit” (في قلوبهم مرض) dan bahkan hal ini diulang-ulang sampai 12 kali tersebar dalam beberapa surat di dalam Al-Quran. Dan di surat Al-Hajj Allah swt bahkan menyatakan bahwa hati terkadang tidak hanya sakit tapi bisa mengalami kebutaan hati.

{فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46)} [الحج: 46]

Sesungguhnya itu adalah bukan kebutaan mata akan tetapi hati yg ada di dadanya lah yg mengalami kebutaan. Bahkan jika hati ini penyakitnya tidak segera terobati maka dia akan bertambah parah. Dan Rasulullah saw di dalam sabdanya pun menyatakan bahwa kesehatan seluruh jasad kita dipengaruhi oleh kesehatan dan kemaslahatan bathin atau hati kita.  Sebagaimana dalam hadis shohih dijelaskan :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

[صحيح البخاري 1/ 20]

Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging jika dia baik maka seluruh badan akan baik dan jika dia rusak maka seluruh badan juga akan rusak. Ingatlah hal itu adalah hati (HR Bukhory). Dari sini sudah seharusnya kita menyadari kekeliruan pepatah Yahudi yg disusupkan di tengah umat Islam bahwa “di dalam tubuh yg sehat terdapat terdapat jiwa yg kuat”. Selanjutnya pepatah itu dikembangkan lagi menjadi “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”. Hasil dari perang pemikiran ini adalah seperti yg sekarang ini kita semua merasakan yakni manusia sangat perhatian terhadap raga, jasad dan badan tetapi dia lupa akan kesehatan Rohani dan persiapan kematian sehingga ga kaget kalau banyak aki-aki nini-nini pake baju training joging tapi giliran ke musholla dan ke majelis tinggal duduk dan dengar malas dan berat. Itu pertanda apakah wahai saudaraku..? Kalau mereka ditanya kenapa tiap pagi lari pagi dan jalan-jalan ..? mereka akan menjawab “iyaa kata dokter biar sehat”. Bagaimana perilaku yg demikian itu kalau kata Rasulullah SAW.. Jika ada Sabda Rasul dan Kata Dokter manakah yg lebih mereka laksanakan dan mereka dahulukan…? Mengapa ga kita tanyakan saja, apakah kalau hadir ke Majelis membikin sakit, tambah parah dan mempercepat kematian dsb…? Bukankan kalau kematian pasti datang baik orang itu sehat atau sakit…? Bukankah surga dan neraka itu belum ada jaminannya tapi knp tidak dicari dan persiapkan..? itulah suatu kenyataan yg sering kita temukan dalam hidup sehari-hari kalau kita mau teliti sebenarnya sebab utamanya adalah bahwa orang tsb hatinya lagi terjangkit suatu penyakit. Iyaa dia hatinya atau Rohaninya sedang sakit.

Allah swt menyatakan dalam al-Quran :

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)} [يونس: 57]

“Wahai segenap manusia, sungguh telah datang kepada kalian suatu (kitab) yg berisi Nasehat dari Tuhan kalian dan Penyembuh bagi (penyakit) apa yg ada di dalam dada, sebagai hidayah dan Rahmat bagi orang yg beriman”. Dari ayat di atas atau dari ayat2 yg lain kita ketahui bahwa al-Quran adalah obat penyembuh. Siapa yg tidak tahu dan tidak yakin kalau al-Quran itu adalah obat hati..? kita semua sudah tentu mengakui akan hal tersebut cuma kita terkadang sering lupa diri tentang masalah obat, penyakit dan pengobatan apalagi kalau itu kaitannya dengan obat hati, penyakit hati dan pengobatan hati.

Berbicara penyakit maka kita akan menemukan dua kenyataan dalam hal tsb yakni penyakit dhohir dan penyakit bathin atau yang kita kenal dengan badan dan penyakit hati. Dan Yang lebih perlu kita ingat lagi bahwa di tengah Masyarakat kita belum ada klinik penyakit hati / bathin yang buka 24 Jam. Hal ini tidak lain karena sangat jarangnya dokter spesialis penyakit hati. Namun sebagaimana penyakit badan, dalam hal penyakit hati pun para ulama mengatakan tidak banyak jauh berbeda, terutama dalam hal pengobatannya, cara dan ciri kesembuhannya.

Dilihat dari jenis penyakitnya maka penyakit badan dan penyakit hati hampir sama. Dalam hal penyakit badan maka tidak semua orang yang sakit bisa mengobati sakitnya sendiri, tergantung dari ringan dan berat penyakitnya. Ada yg penyakit luar dan ringan seperti gatal, panu, kadas dll. Dan ada yg penyakit dalam atau penyakit berat seperti jantung, ginjal dll. Nah bagaimana dengan penyakit hati..? Kalau tadi di awal dikatakan oleh para ulama tidak jauh dengan penyakit badan maka di dalam penyakit hati pun kalau kita mengkaji dari ulasan dan pembahasan para Pakar Kesehatan Hati maka kita dapatkan bahwa penyakit hati pun ada Ringan dan ada yg berat. Yang berat seperti Keingkaran dan Keragu-raguan akan ketauhidan Allah, akan Kebenaran Kitab Suci dan para rasul serta dalam hal yg berkaitan dengan hari akhir. Hal ini bisa dilihat dari tanda-tandanya yg mana orang yg mengidap penyakit hati yg kelas berat ini tentu mereka tidak akan mau bersyahadat, tidak melaksakan sholat atau bolong-bolong dan seterusnya. Sedangkan yg dikategorikan penyakit hati yg ringan yakni yang berkaitan dengan kemalasan kita untuk mengerjakan anjuran dan hal-hal yg disunnahkan di dalam ajaran atau syareat Islam. Namun sebagian ulama seperti Imam al-Ghozali berkata bahwa jika seseorang sangat mudah meninggalkan sunnah yg sangat dianjurkan atau mu’akkad berarti kategorinya dia adalah Kufrun Khofi (kekufuran yg sekala masih tersembunyi) atau bisa juga mengidap penyakit hati Humqun Jali (kebodohan yg terlalu parah akan syariat), hal ini menurut hemat kami bisa tergolong penyakit hati kelas menengah.

Di samping masalah jenis penyakitnya ada juga hal yg perlu juga untuk kita telaah lebih jauh yakni masalah obat dan pengobatannya. Tidak semua orang yg sakit bisa bebas membeli dan meminum obat semaunya sendiri. Terkadang di dalam menggunakan obat kita harus mengetahui takaran atau dosis obat tsb. Bahkan jika termasuk obat yg keras terkadang juga memerlukan resep dari dokter. Ini dalam kaitannya dengan penyakit badan yg dhohir  yg  jelas kita bisa raba dan rasa. Nah bagaimana dengan penyakit bathin atau penyakit hati…? Apakah kita cukup melaksanakan apa yg dikatakan oleh Kang OPIK dalam syair lagu tombo atinya…? Yakni apakah seseorang dengan semata-mata mengamalkan salah satu dari lima obat hati seperti yg dikatakan dalam syair lagu tsb yakni :

– membaca al-Quran dan merenungi maknanya,

– dengan puasa

– Berkumpul dengan orang sholeh

– sholat malam

– banyak berzikir, terus secara otomatis hati kita akan tersembuhkan dari penyakitnya? Belum lagi halnya jika kita disanggah .. ”gimana kita bisa mengobati diri sendiri yg hatinya lagi sakit parah dengan salah satu di antara 5 tombo ati di atas? Jawabannya tentu dengan mudah bisa kita jawab. Iya jawabannya adalah “Susah…!! Jangankan membaca al-Quran, puasa dan Bangun Malam sholat, Kewajiban Sholat lima waktu atau Sholat subuh aja kita sering kesiangan. Bagaimana kita bisa ingat membaca dzikir kalau hati lagi galau, resah, banyak masalah kehidupan sedangkan kondisi hati kita sangat parah penyakit kemalasannya atau bahkan sangat tipis kadar imannya bahkan terkadang tidak lagi percaya bahwa itu adalah obat penyembuh.  Hal ini sebagaimana kenyataan yg terkadang terjadi di sekitar kita ada seseorang yg diberi jamu atau ramuan terkadang tidak percaya akan jamu dan ramuan tersebut. Atau dia tidak mau karena pahit atau takut akan resiko pengobatan itu yg terkadang harus di suntik, di operasi dsb.

Kalau kita kaji lagi lebih jauh, jika dalam masalah obad badan ada aturan minumnya, bagaimana dengan Obat Hati ala Opick di atas. Berapa ayat atau surat atau juz yg harus kita baca sehingga sembuh? Atau bagaimana cara pembacaannya..? Sah kah atau berdampakkah jika kita membaca al-Quran, dzikir dan sholat malam namun kita tidak tahu Niat dan tata cara penyelenggaraan ibadah tsb dan tidak khusyu..? Sedangkan kita tahu jika obat salah ramuan atau salah dosis bahaya dampaknya bagi pasien itu sendiri. Bagaimana dengan obat untuk sakit hati tsb, berapa ayat, surat apa, berapa kali dzikir, berapa rokaat sholat malam dan di jam brp, kalau puasa pun hari apa..? iya masih banyak lagi pertanyaan yg membikin kita bertanya tentang obat hati ala kang Opik tsb.

Belum lagi kalau mau kita kaji lebih lanjut bahwa sebagaimana sakit badan yg kita terkadang harus cek lab, maka dalam hal penyakit hati ternyata kita juga harus bisa mengenali atau mencari hasil diagnosa akan penyakit hati kita. Apakah penyakit hati kita ini bisa diobati dengan obat yg bisa atau biasa kita minum atau kita ramu sendiri seperti dengan cara 4 hal di atas, yg mana kalau kita lihat dari empat obat hati di atas semuanya kita harus aktif mengobati atau meminum obat. Padahal kita tahu terkadang pasien itu makan aja nggak sanggup. Bagaimana dengan perihal penyakit hati…?

Di situlah ada obat hati yg paling mujarab yakni Berkumpul, bertemu dengan orang sholeh. Seakan akan jika kita bertemu dan berkumpl sama Beliau maka Beliau lah yg aktif mengobati. Kalau benar Beliau adalah orang sholeh maka segala hal tentang Beliau bisa menjadi obat bagi hati kita, kata-katanya, penampilan sikap dan perilakunya pun juga jadi penawar hati. Bahkan terkadang sekilas memandang ke wajahnya saja kita sudah mendapatkan obat dan tambahan iman. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihyanya :

قال جعفر بن سليمان مهما فترت في العمل نظرت إلى محمد بن واسع وإقباله على الطاعة فيرجع إلي نشاطي في العبادة وفارقني الكسل وعملت عليه أسبوعا  [إحياء علوم الدين 2/ 184]

Berkata Imam Ja’far bin Sulaiman : “jika aku sedang mengalami futur (berhenti, putus atau malas) dalam beramal sholeh maka aku melihat ke Imam Muhammad bin Wasi’ dan bagaimana semangatnya Beliau menghadap sepenuhnya di dalam ketaatan sehingga aku akan kembali semangat beribadah dan kemalasan pun akan hilang dan aku bisa beramal untuk seminggu”. Belum lagi jika Beliau yg memandang kita dengan rasa penuh rahmat dan kasihan dan di hati Beliau berniat dan mendoakan tanpa sepengetahuan kita. Berapa banyak orang yg hatinya tadinya mati namun sebab dipandang oleh seorang wali dengan pandangan penuh rahmat maka Allah pun menghidupan hati orang tsb dan menyembuhkannya.  Itulah obat hati yg sekarang sudah susah dicari di pasaran. Semoga Allah mempertemukan kita dengan segenap orang orang sholeh yg bisa menjadi penyembuh hati dan pembimbing kita dunia akherat..

Terakhir … Saudaraku Sakit badan ujungnya sampai mati tapi sakit hati atau rohani akan terus kita bawa sampai di hari kiamat Nanti.. Semoga hati kita mendapatkan obat dan kesembuhan sebelum datang kematian amin…

Back to top button
Close
Close